KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

PERAN AKTIVIS KAMPUS TERHADAP PEMBENTUKAN FORMAT KEPEMIMPINAN PADA MASA DATANG
Oleh: Hadi Purwanto

I. Pendahuluan
Mahasiswa merupakan suatu komoditas yang sangat unik karena perannya yang selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak untuk menyongsong suatu perubahan. Hal ini nampak pada sejarah perpolitikan yang ada di Negara kita ini seperti yang terjadi pada tahun 1998 dimana Indonesia telah di pimpin Soeharto selama 32 tahun dan dengan mudah telah di runtuhkan oleh mahasiswa. Sudah berkali-kali mahasiswa mampu membuat sebuah reformasi memuaskan sebagimana yang telah kita rasakan sampai sekarang.
Cacatan sejarah tentang prestasi mahasiswa dalam bidang politik sudah ramai sejak sebelum masa enam puluhan yang berada diberbagai tempat (Negara) dengan kondisi yang bermacam-macam. Seperti revolusi Rusia yang terjadi pada tahun 1971 dan berhasil menjatuhkan kekuasaan Czar dirintis dan di pelopori oleh mahasiswa pada saat itu. Di belahan Cina mahasiswa mempunyai peranan yang besar karena berhasil meruntuhkan Dinasti Manchu.
Mahasiswa dan perubahan; dua kata kunci ini memang sulit untuk dipisahkan. Berbicara tentang mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari predikat prestisius yang saat ini disandangnya, yakni sebagai agent of change. Dan berbicara tentang perubahan pun tidaklah menarik kalau tidak melibatkan peran strategis dan fungsional yang selama ini diperankan oleh mahasiswa.
Akan tetapi, reformasi sebagaimana yang telah digulirkan dari dunia kampus di Indonesia telah berubah menjadi deformasi yang menuju pada holocaust social. Orientasi perubahan bagi tatanan mayarakat (politik, ekonomi, sosial, kemasyarakatan, pertahanan) yang lebih kondusif bertolak belakang 180 derajat di lapangan realitas. Artinya, bahwa reformasi yang terjadi selama ini –diakui atau tidak- hanya bertumpu pada persoalan politik tanpa pernah sedikitpun memandang substansi dari krisis multidimensional yang terjadi.
II. Karakteristik Mahasiswa
Edward Shill mengkategorikan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memliki tanggung jawab sosial yang khas. Shill menyebukan ada lima fungsi kaum intelektual yakni mencipta dan menyebar kebudayaan tinggi, menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa, membina keberdayaan dan bersama, mempengaruhi perubahan sosial dan memainkan peran politik. Arbi Sanit memandang, mahasiswa cenderung terlibat dalam tiga fungsi terakhir. Sementara itu Samuel Huntington menyebutkan bahwa kaum intelektual di perkotaan merupakan bagian yang mendorong perubahan politik yang disebut reformasi.
Menurut Arbi Sanit ada empat faktor pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan politik.
1. sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat.
2. sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda.
3. kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari.
4. mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.
Mahasiswa merupakan generasi muda yang mampu membina dirinya sendirid dan tidak hanya dari hasil pembinaan generasi yang mendahulinya. Ini dapat kita lihat pada sejarah lahirnya gerakan-gerakan politik menentang penjajahan , gerakan-gerakan menegakkan faham nasionalisme tempo dulu. Mereka bukan hasil binaan generasi tua ,tapi justru kekuatan reaksi yang mencari jalan sendiri dari pola-pola pikiran terdahulu. Wahidin dan Soetomo bersimpang jalan dengan orang-orang tuanya berkat pembinaan diri sendiri. Soekarno-Hatta-Yamin bersimpang jalan dengan angkatan terdahulu paling sedikit memodulin secara drastic, lewat diri sendiri. Secara diaklistis segalanya berubah menurut kebutuhan objektif yang lebih maju.
Hal ini masih dapat kita rasakan sampai saat ini, dimana munculnya gerakan-gerakan mahasiswa yang timbul dari dirinya sendiri karena melihat kenyataan yang ada. Namun walaupun demikian mahasiswa jangan sampai terlepas sepenuhnya dari bimbingan orang terdahulu.

III. Peran Mahasiswa
Dalam tulisan ini ada empat peran mahasiswa yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang akan di pikul .
A. Peran moral
Mahasiswa yang dalam kehidupanya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura – hura dan kesenanggan) maka berarti telah berada persimpangan jalan . Jika mahasiswa hari ini lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu dan mau ambil tahu tentang peruban di negeri ini, jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertaiment) dengan alasan kreatifitas, dibanding memperhatikan dan memperbaiki kondisi masyarakat dan mengalihkan kreatifitasnya pada hal – hal yang lebih ilmiah dan menyentuh kerakyat maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasis.wa
B. Peran sosial
Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Sebagai contoh di Kalimantan Barat pada tahuan 1998 s/d 2000 pernah terjadi gelombang pengungsian besar – besaran akibat konflik sosial di daerah ini maka mahasiswa musti ikut memperhatikan masalah ini dengan memberikan bantuan baik secara moril maupun meteril serta pemikirannya serta ikut mencarikan solusi penanganan bencana kemanusiaan ini , Betapa peran sosial mahasiswa jauh dari pragmatisme ,dan rakyat dapat merasakan bahwa mahasiswa adalah bagian yang tak dapat terpisahkan dari rakyat, walaupun upaya yang sistimatis untuk memisahkan mahasiswa dari rakyat telah dan dengan gencar dilakukan oleh pihak – pihak yang tidak ingin rakyat ini cerdas dan sadar akan problematika ummat yang terjadi.
C. Peran Akademik
Sesibuk apapun mahasiswa, turun kejalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah .
Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain ,peran ini menjadi symbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit,”nasi sudah jadi bubur maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “ bubur ayam spesial “. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah dunia dan akhirat.
D. Peran politik
Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini. Pada masa ordebaru di mana daya kritis rakyat itu di pasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung di cap sebagai makar dan kejahatan terhadap negara. Pemerintahan Orba tidak segan-segan membumi hanguskan setiap orang-orang yang kritis dan berseberangan dengan kebijakan pemerintah.
IV. Kepemimpinan
Pilar suatu bangsa itu terdapat pada pemimpin, yang bias berasal dari segmen eksekutif, yudikatif maupun legeslatif. Mereka mendapat suatu amanat kedaulatan dari rakyat negeri ini sebagai “nahkoda” (pemimpin) untuk mengantarkan kapal besar yang bernama “bangsa” ke dermaga kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraannya. Khususnya di era reformasi ini, mereka telah di daulat menjadi kekuatan di garis depan yang menentukan arah perjalan suatu bangsa dari roda sejarah yang menyuratkan kegelapan, beraroma keterjajahan dan penindasan menuju atmosfir kehidupan yang berbingkai pencerahan.
Sementara itu, tak sedikit pula pemimpin rakyat itu yang terjebak mempanglingkan kepentingan diri dan komunitas elitnya dibandingkan mensupremasikan komitmen kerakyatannya. Mereka terjebak dalam praktik hedoninasi kekuasaan dan memarjinalkan tanggung jawabnya.
A. Arti Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah pimpinannyasebagai suatu tim atau kelompok untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan tertentu. Menurut Prof. Kimbsall Young kepemimpinan adalah bentuk dominasi didasari kemampuan pribadi, yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu. Kepemimpinan juga merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan semangat dan kekuatan moral yang kreatif, yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi conform dengan keinginan pemimpin.
B. Kepemimpinan Dalam Islam
Di dalam Islam, kepemimpinan itu biasa dikenal dengan istilah imarah, ri-asah, atau qiyadah. Semuanya bermakna sama. Islam telah melekatkan persoalan kepemimpinan ini atas diri umatnya, sedemikian rupa sehingga tidak boleh ada satu perkara pun dimana di dalamnya melibatkan tiga orang, kecuali harus ada salah seorang diantara mereka yang menjadi pemimpinnya.
Ini berarti Islam telah mengajarkan berpolitik dalam perkara apa pun dengan keharusan ada seorang pemimpin di setiap perkara dan kehidupan kaum Muslim. Perkembangan Kepemimpinan (politik) merupakan menjadi salah satu karakteristik kejayaan Islam pada awal-awal perkembangannya. Hal ini dapat dilihat pada masa Rasulullah memimpin dan selanjutnya di teruskan oleh para shahabat, sangat jelas disana terlihat kesuksesaan dalam kenegaraan sehingga kemakmuran rakyat tercipta dengan baik.
Kenyataan Historis tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang terkait erat dengan dengan kenegaraan. Sehingga muncul ungkapan bahwa “ Islam adalah Agama dab Negara” (al-Islam Din wa Dawlah) yang mengisyaratkan keterkaitan yang erat antara keduanya.
Sistem Kepemimpinan yang dipegang pada zaman Rasullah adalah system Negara Teokrasi yang di dalamnya kedaulatan ada pada Tuhan. Disebut demikian karena tindakan Nabi s.a.w. dalam menjalankan pemerintahannya senantiasa berdasarkan pada tuntunan dan bimbingan wahyu dari Allah s.w.t.

V. Peran Mahasiswa dalam Memformat Kepemimpinan Yang Ideal
Sudah selayknyalah aktivis mahasiswa ikut serta dalm membentuk Kepemimpinan yang Ideal (yang diidam-idamkan) yang mampu memberi ketentraman kepada seluruh rakyatnya. Untuk meinjau lebih dalam lagi tentang kepemimpinan yang ideal maka akan dijelaskan beberapa tinjauan tentang kepemimpinan yang ideal.
Menurut para pakar ahli politik dalam Islam menyebutkan bahwa Kepemimpinan yang Ideal adalah kepemimpinan pada masa Rasulullah dimana menggunakan sitem Teokrasi yang didalamnya kedaulatan ada pada Tuhan. Adapun hal tersebut sekarang tidak dapat lagi dibentuk karena Wahyu Tuhan hanya disampaikan pada Nabi-Nabi.
Kepemimpinan yang ideal dapat ditinjau dari dua segi, yaitu pola hubungan dengan rakyatnya dan kualifikasi personalnya.
Kepemimpinan yang baik dilihat dari segi pola hubungan antara pemimpin dengan rakyat yang dipimpinnya, maka dalam konteks ini, Islam lebih menekankan pada interaksi mutualis antara keduanya. Artinya, kualitas hubungan timbal balik antara pemimpin dengan rakyatnya itulah yang akan mencirikan apakah pemimpin itu baik ataukah buruk. Sehingga, pemimpin yang mencintai rakyatnya, selalu berkorban dalam melayani kebutuhan dan suatu yang mendatangkan maslahat bagi mereka, membimbing dan mendidik mereka dengan keteladanan yang terpuji serta bertindak adil, merupakan ciri-ciri utama pemimpin yang baik. Pada saat yang sama, rakyat yang melihat dan merasakan sikap bijak kepemimpinannya itu akan mencintai sang pemimpin, selalu berharap akan datangnya kebaikan, rahmat dan ampunan Allah baginya.
Sebaliknya, interaksi yang disana terjadi suasana saling mencurigai, gasak-menggasak, dan hujat-menghujat antara pemimpin dengan rakyatnya, mengindikasikan buruknya pemimpin itu. Rasulullah SAW memberi pelajaran akan hal itu sebagaimana sabdanya : “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian”. (HR. Imam Muslim dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i).
Adapun dari segi kualifikasi personal, di antara hal yang fundamental dan mesti melekat pada kandidat pemimpin, selain ia seorang laki-laki yang merdeka, dewasa dan berakal, maka ia haruslah seorang muslim. Karena, secara mutlak orang kafir tidak boleh menjadi pemimpin bagi orang muslim, dan orang muslim tidak boleh mengangkat orang kafir sebagai pemimpinnya. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya yang artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang muslim”. (QS. An-Nisaa’ : 141)
Sedangkan karakteristik Kepemimpinan yang Ideal terletak pada karakter sang pemimpin tersebut, adapun karaketristik pemimpin yang ideal secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut; berani, tegas, kaya akan inisiatif, luas pengetahuan dan pengalaman, peka terhadap lingkungan dan bawahan,mampu menjalin komunikasi yang akrab, berani mengambil keputusan dan resiko, rela berkorban, mau bermusyawarah dan mufakat, bertanggung jawab dan konsekuen, bersikap terbuka, jujur, dan mempunyai prinsip-prinsip yang teguh.
Adapun yang menjadi prinsip-prinsip kepemimpinan yang ideal ada beberapa macam, namun terdapat dua prinsip dasar yang terpenting, sebagai berikut:

1. amanah.
Ada ungkapan menarik bahwa “kekuasaan itu amanah”. Ungkapan tersebut menyiratkan dua hal; pertama, apabila manusia menjadi pemimpin di bumi sesungguhnya kekuasaan yang diperolehnya sebagai suatu pendelegasian kewanangan dari Allah, SWT, sebab Allah sebagai sumber segala kekuasaan. Kedua, karena kekuasaan itu pada dasarnya amanah, maka pelaksanaannya pun memerlukan amanah.
2. Adil
Pemimpin selalu berhadapan dari masyrakat yang terdiri dari kelompok-kelompok. Proses polotik juga berhadapan dengan berbagai kelompok dan golongan. Seorang yang terpilih menjadi pemimpin harus mampu berdiri di atas semua golongan. Untuk itu diperlukan sifat keadilan.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas kepemimpinan yang ideal harus mempunyai sifat-sifat yang tertera pada hasthabrata (delapan tangan, atau “laku wolung warni atau pula delapan genggaman prilaku) yang telah menjadi pedoman kepemimpinan yang telah lalu. Hal itu antara lain adalah:
1. Bagaikan Surya:
– Menerangi dunia, dan memberi cahaya, kearifan, dan kehidupan.
– Menjadi penerang dan pembuat senang.
– Bijaksana, jujur, adil, dan rajin bekerja, sehingga dapat menciptakan Negara yang sentosa.
2. Bagaikan candra atau rembulan.
– Memberikan cahaya penerangan dan keteduhan hati insane yang tengah dirundung duka dan kegelapan.
– Bersifat melindungi, sehingga setiap orang dapat tekun menjalankan tugas masing-masing.
– Memberikan hawa udara ketenangan dan kedamaian.
3. bagaikan Kartika atau burung.
– menjadi pusat pandanagan; selaku sumber kesusilaan dan kecermelangan.
– Menjadi kiblat kedaulatan dan sumber pedoman.
4. Bagaikan Mega atau awan
– menciptakan kewibawaan yang dinamis dan adil.
– Mengayomi-meneduhi, sehingga semua tindakan pemimpin menimbulkan ketaatan
5. Bagaikan Bumi:
– Teguh dan kokoh pendiriannya.
– Bersahaja dalam ucapan dan perbuatan (serasi lahir dan batinnya)
6. Bagaikan samudra atau tirta:
– Luas pandangan, lebar dadanya, besar pemberian maafnya; memberi air kehidupan.
– Dapat membuat rakyat seiya sekata.
7. bagaikan hagni atau api:
– Adil, menghukum tanpa memandang bulu,
– Yang salah mendapatkan hukuman, yang bajik mendapatkan pahala.
8. bagaikan kayu atau angina:
– Ambeg adil, jujur dan dinamis,
– Terbuka, tidak ragu-ragu; bias “ajur ajer” (fleksibel) luwes di tengah masyarakat.

VI. Penutup
Mahasiswa sebagai “agent of change” mendapat beban yang cukup berat yang salah satunya menciptakan Kepemimpinan yang mampu memberikan ketentraman kepada seluruh rakyat Indonesia. Tidaklah semudah membalik telapak tangan untuk menciptakan kepemimpinan yang ideal untuk itu harus teliti dalam memilh langkah dalam menentukan kepemimpinan.
Tidak itu saja setelah terbentuk kepemimpinan yang ideal mahasiswa juga diberi amanat untuk mengawasi kepemimpinan tersebut, supaya kepemimpinan itu tidak melenceng ke hal-hal yang tidak diharapkan. Juga harus senantiasa memberi masukan-masukan yang bernilai untuk kemajuan kepemimpinan bangsa ini.
Hal itulah yang menjadi salah satu peran Mahasiswa sebagai anak yang paling tua di negeri ini, selain peran-perannya yang lain. Untuk itu mahasiswa dituntut kesiapannya dalam mencipatakan kepemimpinan yang telah diidam-idamkan oleh rakyat kita.

• Hadi Purwanto merupakan Mahasiswa semerter VII fakultas Tarbiyah STAI Al Falah Banjarbaru, Kalimantan Selatan tahun 2007.
• Disampaikan pada Latihan Kepemimpinan Tingkat Nasional Tahun 2007 Tanggal 26 s.d 30 Nopember 2007 di Hotel Syahid Surabaya Jawa Timur.

2 thoughts on “KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

  1. mksh buat tulisannya…
    tulisan ini saya jadiin referensi buat tugas mata kuliah komunikasi politik..
    oya,saya ingin meninggalkan satu pertanyaan diblog ini :
    Apa peranan aktivis politik dalam konteks pemberdayaan politik rakyat??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s