Pesantren Perlu Kembangkan Tradisi Menulis

Pesantren Perlu Kembangkan Tradisi Menulis

Bogor (Pinmas)–Pondok pesantren (pontren) perlu membangun dan menguatkan tradisi menulis yang pernah dikembangkan oleh para ulama. Sehingga diharapkan akan memberikan warisan berharga bagi para generasi berikutnya.
Hal itu dikemukakan Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra pada Rountable Discussion `Pesantren sebagai pusat peradaban Islam Indonesia ` yang diselenggarakan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama di Bogor, Selasa (14/12).
Acara ini juga menghadirkan pembicara para mantan Menteri Agama Prof A. Malik Fadjar, KH Tholchah Hasan dan Maftuh Basyuni, diikuti pengasuh pondok pesantren antara lain pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi, pengasuh Pontren Tebuireng KH Shalahuddin Wahid dan pengasuh Pontren Al-Anwar, Rembang, Jateng, KH Maemun Zubair.
Azyumardi mengatakan, kekuatan tradisional yang dimiliki oleh pesantren diantaranya qadalah kekayaan khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab kuning. Misalnya kita mengenal kitab karya Syekh Mahfudz Termas dalam bidang hadits yang berjudul Manhaj Zhawi an Nazhar dan Imam Nawawi al Bantani dengan karyanya, tafsir al Munir li Ma`alim at tanzil.
Namun demikian lanjut Azyumardi, sikap kesungguhan mengembangkan keilmuan di berbagai disiplin ilmu, bekerja keras dalam pengembangan pemikiran dan terobsan di berbagi bidang, harus diperkuat dengan kekuatan spiritualitas menempatkan pontren sebagai basis pembangunan peradaban Islam Indonesia. “Ilmu tanpa spiritualitas tidak lengkap di tengah arus-arus globalisasi yang merusak,”tegas mantan Rektor UIN Jakarta ini.
Sementara itu Pimpinan Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, KH Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan, dunia pontren tidak boleh fokus pada pendidikan formal saja tetapi selain pendidikan, penting ditekankan pengajaran, penugasan, pembiasaan, pengawalan, pelatihan dan teladan di berbagai lini kehidupan. Sehingga santri mengerti arti dan tujuan hidup. “Pertanyaannya apa bisa? Bisa dan harus bisa. Ponpes tak hanya didik skil tapi mendidik hidup,” kata kiai Syukri.
Ia mengemukakan live skill diajarkan kepada para pendidik terlebih dahulu sebelum ditujukan ke para santri. Sebab, karakter, akhlak, dan moral sulit dibentuk tanpa mempertimbangkan beberapa hal tersebut. Jika karakter sudah terbentuk melalui proses dan prosedur dasar tadi maka bisa diarahkan dan diberdayakan untuk penguatan ekonomi, sosial dan politik.
Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagaman Amin Haedari mengatakan, pesantren tetap bisa bertahan dengan keunikannya tanpa perlu kehilangan watak adaptif dan dinamisnya dengan dunia luar sehingga banyak pesantren yang tidak saja tetap eksis, tetapi mampu bersaing dengan institusi pendidikan yang menggunakan pola selain pesantren. (ks)
http://kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=7070
15 des 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s