h1

MENJADI PEGAWAI NEGERI

October 13, 2011

Menjadi Pegawai Negeri

Oleh: Ahmad Juhaidi

Mahasiswa S2 UPI/IKIP Bandung asal Padang Batung Kandangan

Banjarmasinpost.co.id – Rabu, 24 November 2010

MENJADI pegawai negeri adalah impian hampir semua orang. Seorang sarjana yang telah menjadi pedagang sukses, tetap saja ingin menjadi pegawai negeri. Padahal, di usia awal 30-an dia sudah menjadi seorang haji, sebuah pertanda kesuksesan secara finansial.

Rupanya, hampir semua orang paham betapa nyaman menjadi pegawai negeri. Tidak hanya perkara penghasilan yang mengalir terus, tetapi menyangkut status sosial. Begitu seorang diangkat menjadi pegawai negeri, maka praktis hidupnya akan terjamin hingga ajal.

Meminjam ungkapan Zaim Uchrawi, tak seperti perusahaan, negara tak mungkin bangkrut. Kalaupun bangkrut, negara juga tak mungkin ditutup. Pegawai negeri praktis kebal PHK.

Pegawai negeri pada umumnya juga tak dituntut ekstra keras mengejar target seperti pada pegawai swasta. Oleh karena itu, tak mengherankan banyak pegawai negeri yang menjadi pegawai ‘teladan’ (telat datang), pulang cepat, bahkan tidak masuk kantor berhari-hari bukan hal yang aneh di kalangan pegawai negeri. Mereka tidak khawatir akan dipotong gajinya seperti di perusahaan swasta.

Bagi mereka yang semata ingin bekerja baik-baik, menjadi pegawai negeri sungguh merupakan pilihan menguntungkan, terutama di daerah, tempat yang ragam pekerjaannya tidak sebanyak di  perkotaan.

Menjadi pengawai negeri menjadi pilihan menggiurkan di saat angka pengangguran terbuka yang telah mencapai 10,7 juta, setengah terbuka 28,93 juta, digabung menjadi satu, hingga muncul angka 39,6 juta orang.

Realitas itu sungguh sangat memprihatinkan. Jumlah penganggur hampir 20 persen dari seluruh penduduk Indonesia yang diperkirakan sekitar 210 juta, termasuk bayi, anak-anak, pelajar, dan mahasiswa yang belum bekerja. Bila dilihat dari angkatan kerja yang berjumlah sekitar 110 juta, maka angka 39,6 juta benar-benar mengerikan.

Di pelosok desa, meskipun tidak kaya pegawai negeri merupakan cermin kemapanan dan ‘kepintaran’. Common sense yang berlaku adalah  pegawai merupakan jaminan masa depan. Gaji pegawai negeri memang kecil, banyak yang mengeluhkan hal itu.

Namun, di daerah nilai gaji pegawai negeri tetap jauh di atas rata-rata pendapatan petani. Apalagi jika pegawai negeri yang merangkap jadi petani. Lagi pula petani tak pernah punya kepastian apa pun dalam segala hal. Jika ia seorang yang baik, pegawai  negeri juga mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk berbuat baik membantu masyarakat luas.

Selain itu, pegawai negeri juga sering dipandang sebagai pekerjaan yang lebih terhormat dibanding banyak pekerjaan lainnya, sehingga minat untuk menjadi pegawai negeri terus membludak.

Kenyataannya pula, tak semua pegawai negeri hidup sederhana. Bahkan, sangat banyak pegawai negeri yang hidup dalam kemewahan. Mereka hidup lebih makmur dibanding para profesional sekalipun. Memiliki kekuasaan yang maha besar tetapi beban kerja yang lebih ringan. Sayangnya, untuk meraih jabatan tertentu pun mereka akan rela menyetor ke sana ke mari.

Begitulah potret sebagian kecil pejabat. Wajar bila muncul seloroh bahwa pegawai yang paling miskin dan yang paling kaya adalah pegawai negeri.  Banyak pegawai negeri (pejabat tentu) sukses memakmurkan diri dengan cara ‘membantu’ orang menjadi pegawai negeri pula.

Di musim penerimaan pegawai negeri sekarang, mereka benar-benar berpesta. Isu-isu di berbagai daerah menyebut bahwa seorang sarjana atau seorang calon bintara polisi, hari-hari ini perlu menyiapkan uang sekitar Rp 30 juta untuk menjadi pegawai negeri atau siswa Sekolah Polisi Negara.

Di beberapa daerah ‘tarif’ itu konon mencapai Rp 80 juta. Isu yang sudah menjadi ‘pengetahuan umum’ itu tentu saja tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Dari angka-angka itu saja, wajarlah kalau orang bertanya: quo vadis Indonesia? Pertanyaan semacam itu tidaklah mengada-ada, karena realitas moral kita memang sedang berada pada tingkat yang paling bawah yang dampaknya dalam kehidupan sosio-ekonomi dan politik sungguh luar biasa.

Dalam sistem birokrasi yang membusuk itu, tentu akan sangat  sulit untuk melihat realisasi sila kelima Pancasila, ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ dalam tempo yang dekat ini.

Tetapi, betulkah korupsi telah menjadi budaya bangsa? Sosiolog Dr Mely G Tan dengan argumennya menolak pendapat yang mengatakan bahwa korupsi telah menjadi budaya Indonesia, banyak pihak yang melakukan protes. Artinya, di kalangan anak bangsa ini perasaan jijik terhadap korupsi masih hidup dan belum hilang. Itulah yang memberi harapan dan optimisme agar kita tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Mungkinkah pegawai atau polisi yang masuk dengan jalan korup itu akan dapat menjadi pelayan masyarakat yang baik kelak,   ataukah justru menjadi benalu bangsa seperti para pejabat yang telah ‘menolong’nya?

Realitas seperti itu mungkin selalu dibantah. Namun, itulah wajah khas negara berkembang atau terbelakang. Sebuah wajah yang, kita percaya, hendak diubah oleh Rudy Arifin, seluruh pegawai negeri, dan bakal calon pegawai meskipun  mereka telah merasakan atau baru memimpikan nikmatnya menjadi pegawai negeri.

h1

Pesantren Perlu Kembangkan Tradisi Menulis

October 13, 2011

Pesantren Perlu Kembangkan Tradisi Menulis

Bogor (Pinmas)–Pondok pesantren (pontren) perlu membangun dan menguatkan tradisi menulis yang pernah dikembangkan oleh para ulama. Sehingga diharapkan akan memberikan warisan berharga bagi para generasi berikutnya.

Hal itu dikemukakan Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Azyumardi Azra pada Rountable Discussion `Pesantren sebagai pusat peradaban Islam Indonesia ` yang diselenggarakan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama di Bogor, Selasa (14/12).

Acara ini juga menghadirkan pembicara para mantan Menteri Agama Prof A. Malik Fadjar, KH Tholchah Hasan dan Maftuh Basyuni, diikuti pengasuh pondok pesantren antara lain pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi, pengasuh Pontren Tebuireng KH Shalahuddin Wahid dan pengasuh Pontren Al-Anwar, Rembang, Jateng, KH Maemun Zubair.

Azyumardi mengatakan, kekuatan tradisional yang dimiliki oleh pesantren diantaranya qadalah kekayaan khazanah keilmuan klasik yang tertuang dalam kitab kuning. Misalnya kita mengenal kitab karya Syekh Mahfudz Termas dalam bidang hadits yang berjudul Manhaj Zhawi an Nazhar dan Imam Nawawi al Bantani dengan karyanya, tafsir al Munir li Ma`alim at tanzil.

Namun demikian lanjut Azyumardi, sikap kesungguhan mengembangkan keilmuan di berbagai disiplin ilmu, bekerja keras dalam pengembangan pemikiran dan terobsan di berbagi bidang, harus diperkuat dengan kekuatan spiritualitas menempatkan pontren sebagai basis pembangunan peradaban Islam Indonesia. “Ilmu tanpa spiritualitas tidak lengkap di tengah arus-arus globalisasi yang merusak,”tegas mantan Rektor UIN Jakarta ini.

Sementara itu Pimpinan Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, KH Abdullah Syukri Zarkasyi mengatakan, dunia pontren tidak boleh fokus pada pendidikan formal saja tetapi selain pendidikan, penting ditekankan pengajaran, penugasan, pembiasaan, pengawalan, pelatihan dan teladan di berbagai lini kehidupan. Sehingga santri mengerti arti dan tujuan hidup. “Pertanyaannya apa bisa? Bisa dan harus bisa. Ponpes tak hanya didik skil tapi mendidik hidup,” kata kiai Syukri.

Ia mengemukakan live skill diajarkan kepada para pendidik terlebih dahulu sebelum ditujukan ke para santri. Sebab, karakter, akhlak, dan moral sulit dibentuk tanpa mempertimbangkan beberapa hal tersebut. Jika karakter sudah terbentuk melalui proses dan prosedur dasar tadi maka bisa diarahkan dan diberdayakan untuk penguatan ekonomi, sosial dan politik.

Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagaman Amin Haedari mengatakan, pesantren tetap bisa bertahan dengan keunikannya tanpa perlu kehilangan watak adaptif dan dinamisnya dengan dunia luar sehingga banyak pesantren yang tidak saja tetap eksis, tetapi mampu bersaing dengan institusi pendidikan yang menggunakan pola selain pesantren. (ks)

didowload dari: http://kemenag.go.id/index.php?a=detilberita&id=7070

pada : 15 des 2010

h1

THREE IDIOTS

September 25, 2011

Three Idiots

Kisah Sukses Tiga

Mahasiswa Bengal

Sabtu, 9 Januari 2010

Cita-cita dan bakat seseorang memang tidak bisa dipaksakan. Seorang anak yang memiliki bakat seni atau fotografi ternyata tidak bisa disekolahkan di jurusan teknik dan dipaksakan menjadi insinyur. Hasilnya, nilai-nilai ujiannya selalu jeblok dan tidak ada jaminan untuk lulus.

 

Begitulah salah satu pesan moral yang ingin disampaikan dalam film Bollywwod terbaru, Three Idiots. “Film ini menyindir kultur yang terjadi di India, di mana setiap anak yang baru lahir sudah ditentukan masa depannya. Jika laki-laki harus menjadi insinyur, jika perempuan jadi dokter, dan sebagainya,” kata Produser Multivision Plus Ram Punjabi yang juga hadir dalam pemutaran perdana film ini bersama wartawan di Blitzmegaplex, Jakarta, pekan lalu.

 

Ya, setelah sekian lama tidak membuat penonton film Indonesia terlena dengan kecantikan pemain dan lagu-lagunya, film India kembali hadir ke tengah para pencintanya di negeri ini. Three Idiots, sebuah film drama komedi yang digarap sutradara Rajkumar Hirani ini memang menggebrak kembali panggung film nasional.

Hal ini terlihat dari kesan para wartawan maupun penonton awam yang memadati Blitzmegaplex saat preview film ini, pekan lalu. Hampir seluruh penonton berdecak kagum pada film yang dimainkan aktor yang populer era 1990-an, Amir Khan, yang berperan sebagai Rancho, Kareena Kapoor (Pia), R Mardhacan (Farhan) dan Sharman Joshi (Raju) ini.

 

Sejak kehadirannya di Indonesia pada era 1950-an, film-film India memang selalu mengagumkan penonton film Indonesia. Bukan hanya aspek cerita dan dramatisasinya yang membuat penonton terpesona, melainkan kecantikan para pemainnya, serta keindahan panorama alam yang disajikan dalam film-film India membuat mata penonton segar melihatnya. Belum lagi bicara kostum yang tidak asal melekat di tubuh para pemainnya, hebohnya tarian serta unsur pendidikan yang disajikan dalam film ini begitu berarti.

Dari aspek itu, film India memiliki kelebihan yang tidak bisa dibandingkan dengan film nasional. Apalagi jika bicara misi dan apa yang didapat oleh penonton.

Meski dalam film-film action India kerap dipertonton kisah-kisah dendam, namun film India selalu menyisipkan adegan-adegan mengharukan seperti seorang anak yang selalu taat kepada orangtuanya. Bagaimana seorang anak laki-laki maupun perempuan yang begitu menghormati ibunya, dan oleh film India adegan seperti di-blow up sedemikian rupa sehinga menjadi bahan pendidikan yang sangat berarti bagi penontonnya.

 

Sementara itu, di film Indonesia, yang katanya dibuat oleh masyartakat yang berbudi dan berbudaya timur nan santun ini, hanya sedikit kita mendapatkan film-film yang mengandung unsur-unsur pendidikan seperti itu. Film Indonesia umumnya hanya mengedepankan bisnis dan keuntungan materi. Bukan tidak boleh, bahkan harus, tapi hendaknya unsur pendidikan harus lebih diprioritaskan.

 

Sutradara Garin Nugroro pernah mengatakan, film horor Indonesia umumnya lebih banyak mengedepankan adegan seksnya ketimbang horor. Sementara film komedi tidak banyak menampilkan kelucuan, tapi kekonyolan yang menyebalkan.

 

Film Three Idiot adalah film komedi yang segar memberikan kelucuan-kelucuan, baik dialog (verbal) maupun adegan. Meski demikian, keharuan-keharuan yang dimunculkan mampu menguras air mata para penontonnya yang baru saja terpingkal-pingkal oleh ulah tiga mahasiswa teknik di ICE, Rancho, Farhan dan Raju, yang kerap disebut si tolol (idiot).

 

Mereka kuliah di kampus ICE yang dipimpin rektor “killer” Viru Sahastrabudhe yang tak kenal kompromi, kolot, dan keras kepala. Karena kekesalan mereka pada sang rektor itu, kadang mereka menyebut Viru dengan sebutan Virus. Viru memiliki seorang anak gadis yang cantik bernama Pia, seorang dokter di sebuah rumah sakit. Pia sudah bertunangan dengan Shuraz, pengusaha yang selalu pamer harga pakaian yang dikenakannya.

Pia, yang awalnya kesal pada tiga mahasiswa bandel ini, karena kerap meledek ayahnya, akhirnya jatuh cinta pada Rahanco, yang ternyata anak muda ini tidak idiot dan juga sering menolong orang serta setia kawan.

Bagaimana kisah selanjutnya, saksikan saja di bioskop kesayangan Anda, tidak bisa diceritakan dalam tulisan ini, sebab durasinya hampir tiga jam. Yang pasti, film ini akan membuat Anda tertawa sekaligus terharu, mungkin juga menangis. (Kartoyo DS)

 

Naskah didownload dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=243825

h1

LAST SAMURAI

September 25, 2011

LAST SAMURAI

Captain Nathan Algren (Tom Cruise) adalah seorang laki-laki yang pikirannya terombang-ambing. Peperangan yang dulu ia pernah jalani, kini seperti sia-sia. Dulu ia mempertaruhkan hidupnya demi kehormatan dan negaranya, tapi bertahun-tahun sejak Perang Saudara di Amerika itu, dunia telah berubah. Faham pragmatis telah menggantikan keberanian, kepentingan diri sendiri telah mengambil tempat dari pengorbanan, dan kehormatan tidak dapat ditemukan di manapun – terutama di Amerika di mana kampanye untuk memberi peran pada orang-orang Indian berakhir dengan kekecewaan dan penderitaan.

Di belahan dunia lainnya, seorang prajurit juga merasa jalan hidupnya kehilangan pegangan. Ia adalah Katsumoto (Ken Watanabe), pimpinan terakhir dari barisan prajurit tradisional, Samurai, yang mendedikasikan hidup mereka untuk melayani kaisar dan negara. Seperti kehidupan modern yang mengubah Amerika, yang mendesak dan mengalahkan penduduk asli Amerika, hal itu juga mengancam nilai-nilai tradisi Jepang. Jaringan telegrap dan jalan kereta api yang membawa kemajuan kini telah mengancam nilai dan kode etik yang menghormati keberadaan Samurai selama berabad-abad.

Kedua prajurit tersebut bertemu ketika kaisar muda Jepang dibujuk oleh pedagang senjata Amerika yang melihat pasar Jepang menjanjikan keuntungan besar. Mereka lalu menyewa Algren untuk melatih serdadu Jepang dengan konsep perang dan persenjataan modern. Tetapi sebagai penasihat kaisar yang akan menghapus keberadaan Samurai, dalam suatu pertempuran Algren sangat terkesan dan terpengaruh dengan sikap Samurai yang mengingatkan pada dirinya dulu.

Setelah menjadi tawanan terhormat dari Katsumoto, Algren malah mempelajari kehidupan Samurai berikut ilmu perang tradisionalnya. Mantan prajurit Amerika itu melihat bahwa Kaisar Jepang sudah terpengaruh oleh kebudayaan Barat serta persenjataan modern yang ditunjukkan oleh para pedagang senjata, dan bertekad akan menghapus keberadaan Samurai, yang selama ini telah menghormati dan sangat loyal pada Kaisar. Sebagai wakil dari budaya modern yang pernah terlibat dalam penghancuran suku bangsa asli Amerika, Algren tidak rela para Samurai itu dibantai oleh senjata buatan negaranya.

 

Sebuah nilai kehidupan yang menjadikan Jepang maju sampai saat ini adalah walau mereka mempunyai peralatan modern tapi semangat tradisional jepang yang gigih rajin dan pantang menyerah masih dipertahankan, hal tersebut lah yang dipertahankan Katsumo yang akhirnya membuat Kaisar Meiji Sadar.

 

Jangan sampai gak nonton film ini ya, banyak hikmah terkandung didalamnya yang akan membuat kita bisa lebih maju.

 

Jenis Film : Action/adventure/drama/war

Produksi : Warner Bros.

Pemain : Tom Cruise /Ken Watanabe /Timothy Spall /billy Connolly /Tony Goldwyn

Sutradara : Edward Zwick

Penulis : John Logan/marshal Herskovitz

 

h1

SUMMERHILL SCHOOL “Pendidikan Alternatif Yang Membebaskan”

September 20, 2011

SUMMERHILL SCHOOL

“Pendidikan Alternatif Yang Membebaskan”

Buku ini memberikan alternatif pendidikan bagi orangtua dan pendidik. Buku ini menggambarkan sebuah sekolah yang bernama Summerhill School. Summerhill school adalah sekolah yang didirikan oleh Alexander Sutherland Neill pada tahun 1921 di Jerman dan kemudian dipindah ke Suffolks, sekitar 160 km dari London. A.S Neill menerapkan prinsip swakelola dalam mengelola sekolah ini. Anak-anak diberikan kebebasan sepenuhnya untuk tumbuh dan berkembang sendiri. Prinsip egaliter, demokratis dan liberal sangat terasa disini.

Summerhill merupakan sekolah bebas dan berasrama untuk usia TK sampai SMA. Disekolahan ini para siswa dibebaskan untuk ikut mengikuti pelajaran ataupun tidak.

Prinsip demokrasi ini diterapkan dengan adanya Rapat Umum yang diadakan setiap malam Minggu, dengan dihadiri seluruh siswa Summerhill dan staf sekolah serta kepala sekolah (A.S Neill). Setiap peserta rapat memiliki hak suara yang sama. Hak suara staf sekolah, bahkan kepala sekolah pun memiliki bobot yang sama dengan hak suara murid umur tujuh tahun.

Sedangkan prinsip swakelola ini adalah staf sekolah dan siswa dibebaskan untuk belajar atau mangkir, dibebaskan untuk bermain selama mungkin yang mereka mau, bebas dari indoktrinasi agama, moral, politik dan pembentukan karakter. Bagi penganut konvensional, penanaman nilai moral & tata krama harus ditanamkan sejak kecil. Bahkan banyak yang menyebut Summerhill school adalah “Sekolah Sesukamu”, yang menyiratkan bahwa sekolah ini sekedar kumpulan anak primitif dan liar yang tak mengenal aturan & tata krama. Namun bagi Neill, anak memiliki sifat bawaan bijaksana dan realitas. Selama dibiarkan begitu saja tanpa arahan apa pun dari orang dewasa, anak akan berkembang dengan sendiri sejauh kemampuannya.

Mungkin akan banyak cibiran tentang pola pendidikan Neill ini. Namun, pada kenyataannya, Summerhill berhasil mencetak alumnus yang sukses dengan berbagai profesi. Dokter, musisi, dosen, pengusaha, insinyur dan berbagai profesi lainnya yang berpikiran terbuka & maju, jujur, tekun, optimis, dan yang terpenting adalah bahagia menjadi dirinya sendiri.

Judul buku: Summerhill School; Pendidikan Alternatif  yang Membebaskan

Penulis: AS. Neil

Penerjemah: Agung Prihantoro

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Halaman: 356 halaman

Dibeli pada:

Tanggal           : 7 Nopember 2007

Toko Buku      :Book City Banjarbaru

Harga              : Rp. 47.150,-